Bos Persebaya Surabaya: Tidak Boleh Egois Memaksakan Sepakbola

Azrul punya kekhawatiran bahwa sepakbola bisa kembali mempersulit pekerjaan tenaga medis yang mengatasi virus corona.

Kompetisi Liga 1 2020 sepertinya akan kembali digelar dengan segala penyesuaian di tengah pandemi virus corona. PSSI selaku federasi sepakbola Indonesia pun sudah menyampaikan rencana mereka terkait liga.

Untuk Liga 1, PSSI punya target menggelarnya kembali pada September, sementara Liga 2 dimulai Oktober. Hanya saja, belum ada konfirmasi soal kelanjutan kompetisi ini, yang mungkin akan diumumkan pekan ini.

Persebaya Surabaya menjadi salah satu klub Liga 1 yang agak keberatan dengan dilanjutkannya kompetisi. Azrul Ananda selaku presiden klub punya kekhawatiran, bahwa Indonesia memang belum stabil karena corona.

Baca Juga : Virus Corona Merebak, Bagaimana Dengan Persiapan Piala Dunia 2022?

“Kompetisi baru boleh dijalankan lagi kalau situasi sosial ekonomi bisa dinyatakan aman. Pandemi ini bukan hanya berdampak untuk keselamatan dari aspek kesehatan. Pandemi ini punya dampak lanjutan yang mungkin lebih berbahaya untuk jangka panjang. Yaitu dampak ekonomi,” buka Azrul, dikutip laman resmi Persebaya.

“Klub-klub di Indonesia masih sangat mengandalkan revenue dari penjualan tiket. Beda dengan di negara-negara maju, yang mayoritas pemasukannya dari hak siar TV. Di Indonesia, bagi hasil dari liga masih sangat kecil bila dibandingkan dengan cost keseluruhan,” sambungnya.

Hingga kini, penyebaran virus corona di Indonesia masih sangat tinggi, bahkan sudah beberapa hari terjadi lonjakan jumlah kasus. Menurut Azrul, memang kondisi saat ini serbasalah, dan sepakbola jangan sampai terkesan egois.

Baca Juga : Pandemi Corona Virus, Penyambutan Juara All England 2020 DiBatalkan

“Sudah bukan rahasia, pertandingan sepakbola yang ramai berpotensi menjadi superspreader yang mengerikan. Jangan-jangan, kalau dipaksakan, sepakbola justru semakin mempersulit perjuangan dan kerja keras pekerja-pekerja medis yang sekarang saja sudah sangat kewalahan,” ucap pengusaha muda itu.

“Selain itu, masyarakat harus memprioritaskan keuangannya untuk keluarga dan kelangsungan hidupnya sendiri dulu. Apalagi kalau jumlah pengangguran meroket akibat pandemi ini,” urai Azrul.

Sekali lagi, di situasi sekarang, sepak bola itu menurut saya adalah prioritas kesekian dalam kelangsungan hidup masyarakat. Tidak boleh emosional, dan egoistis dalam memaksakan sepakbola,” tutupnya.

Hingga kini memang PSSI masih menyempurnakan formula mereka untuk menggelar kompetisi di tengah pandemi. Salah satu rencana yang sempat dipaparkan adalah sentralisasi pertandingan di Pulau Jawa.

Selain itu, tentunya setiap klub wajib menerapkan protokol kesehatan yang ketat supaya tidak ada risiko besar soal penyebaran virus corona. Laga digelar tanpa penonton, dan tidak ada sistem degradasi untuk musim 2020 ini.